|
BUMI/TANAH UNTUK DIINVESTASIKAN UMAT MANUSIA ”SUATU RENUNGAN BAGI SIAPA SAJA YANG MENDAPAT AMANAH MENGELOLA ADMINISTRASI PERTANAHAN” Allah SWT menyediakan bumi/tanah untuk diinvestasikan dan dikelola sejak Allah SWT menciptakan bumi dalam waktu dua hari… “ Dan DIA menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh diatasnya. DIA memberkahinya dan DIA menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuninya) dalam empat masa ( Penjelasan itu sebagai jawaban ) bagi orang-orang yang bertanya” ( Fushshilat : 10 ) Dalam ayat tersebut tidak dubedakan masalah akidah atau warga Negara mereka yang bertanya. Sebagian mereka ada yang semangat dan sebagian yang lain ber malas-malasan sehingga taraf kehidupan merekapun berbeda-beda. Kemajuan hanya diraih oleh mereka yang bersemangat. Allah SWT berfirman :” Sesungguhnya Telah menempatkan kamu sekalian di muka bumi dan diadakan bagimu di muka bumi itu ( sumber ) penghidupan, Amat sedikitlah kamu bersyukur.” ( Al-A’raaf :10) Allah SWT menekankan agar mereka memanfaatkan sumber kehidupan yang ada dan mengelolanya dengan sebaik-baiknya. Allah SWT telah memberikan kesempatanuntuk memakmurkan bumi/tanah ini sesuai dengan firma-NYA yang dinyatakan oleh Nabi Saleh a.s. “..DIA telah menciptakan kamu dari muka bumi/tanah dan menjadikan pemakmurnya…” (Huud : 61)  Ketua MUI, KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudz: Jadilah Pegawai BPN yang Amanah ! “Amanah akan menghantarkan seseorang kepada kekayaan, sedangkan khianat akan mendatangkan kefakiran” (Al-hadist) DALAM rangka memperkokoh iman dan takwa (Iptak) di Kantor Pertanahan di Wilayah Jawa Tengah , dilaksanakan acara keagamaan sekaligus merayakan Hari Ulang Tahun Agraria, pada Jumat Sore, pecan terakir bulan Ramadan “Acaranya dilakukan sore hari untuk menghormati yang Muslim “Kata Kepala Kanwil BPN Jawa Tengah, Ir. Dody Imran Khalid.I Kegiatannya di Pondok Pesantren Maslakhul Huda (PMH) Kajen Margoyoso, Pati Jawa Tengah Pimpinan KH Muhammad Achmad Sahal Mahfudz, acaranya dari mulai tahlil, pembacaan doa, serta siraman rohani oleh para tokoh agama. Siraman penyejuk hati ini sangat disambut baik oleh para pegawai dan Kepala Kantor Pertanahan se-Jawa Tengah. “Allah memerintahkan kita untuk melaksanakan amanah secara baik, dalam arti sempit maupun luas.Sebagai seorang Muslim yang beriman kita memiliki amanah, diantaranya berkhidmah terhadap sesama makhluk ciptaanNya “Manusia yang paling baik adalah yang paling memberikan manfaat bagi yang lainnya” begitulah sabda Rasulullah SAW” “Pangkat dan jabsatan bukan sekedar penghargaan dan pengakuan, namun pada hakekatnya adalah “amanah” yang harus dijaga dan dipertanggung jawabkan, baik pada diri sendiri, keluarga dan organisasi seksaligus pada Negara dan bangsa, maupun kepada Tuhan Yang Maha esa, ujar Sahal Mahfudz, Ketua Majelis Ulama Indonesia mengawali sambutannya. Menurut Sahal Mahfudz, jabatan adalah amanah yang bukan semata-mata sebagai pemberian pangkat. Oleh karena itu, siapapun di manapun, dalam kondisi apapun tetap harus memberi manfaat kepada orang lain, “apalagi jika Anda memiliki kedudukan atau jabatan yang mempengaruhi hajat hidup orang banyak, maka amanah dalam diri semakin banyak. Selain itu, sikap dan perilaku akan memiliki dampak terhadap orang lain, dan seharusnya lebih banyak member manfaat kepada mereka, katanya. Lalu, kiat Sahal kembali mengingatkan sabda Rasulullah di atas. Amanah itu dapat mendatangkan kekayaan bagi seseorang “Maka, kita akan menjadi orang kaya bila mampu melaksanakan amanah. Namun, kekayaan di sini bukan bersifat materialistik bukan berupa tumpukan harta. Kekayaan itu merupakan rahmat dari Allah”, ujarnya Selain itu, harus mampu melaksanakan amanah sesuai posisi dan fungsinya. Sebagai pekerja atau pegawai, misalnya, dengan bersikap jujur, sikap jujur adalah upaya melakukan sesuatu atau menyampaikan sesuatu yang sebenarnya. Artinya, kata jujur, melakukan sesuatu yang benar, dengan cara atau tahapan benar, untuk tujuan yang benar dan dasar yang benar. Rais Aam Syuriah pengurus besar Nadhatul Ulama ini, menilai antara amanah dan jabatan sangat rentan. Mengapa demikian, Karena terkadang masih ada orang yang ingin mendapatkannya dengan cara-cara yang kurang baik. Bahkan sampai mengeluarkan uang puluhan juta. “Jabatan hakekatnya merupakan wujud penghargaan bangsa dan Negara kepada pegawai BPN, atas prestasi dan kualitas pengabdian para pegawai selama ini kepada Negara dan bangsa. Di samping itu, kenaikan pangkat juga merupakan kehormatan yang bermakna sebagai tantangan terhadap peningkatan kemampuan dalam mengemban tugas dan jabatan untuk mewujudkan karya terbaik, sehingga dapat memberikan kontribusi positif bagi BPN khususnya, dan masyarakat pada umumnya,” ujar rektor Institut Islam NU di Jepara ini. Pertanyaaannya, sudahkah pegawai pertanahan Jawa tengah memiliki komitmen melaksanakan amanah dan bersikap serta berkata jujur? “Jika sudah, mari dimulai dari diri pribadi, teman kerja, para atasan, para Kakan dan jajarannya untuk melaksanakan amanah yang diemban dengan bersikap serta berkata jujur kepada masyarakat yang dilayaninya jangan sampai istilah lama diterapkan. Kalau bias dipersulit kenapa mesti dipermudah! Yang benar ya, kalau bisa dipermudah kenapa juga mesti dipersulit atau kalau memang gratis kenapa harus membayar”, ujar peraih gelar doctor kehormatan di Universitas Islam Negeri Jakarta ini dengan berkelakar  FILOSOFI TANAH (TINJAUAN DARI KULTUR / BUDAYA KEJAWEN) Tanah berarti lemah dalam bahasa jawa… Tanah sendiri pada hakekatnya merupakan unsur yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Bagian dari lithosfer ini, mengandung unsur hara yang diperlukan bagi tumbuhan, yang merupakan produsen pada rantai makanan,maka dapat disimpulkan bahwa tanah memiliki kaitan erat yang sulit dipisahkan. Apa jadinya tidak ada tanah…tidak ada tumbuhan, dan tidak ada tumbuhan maka tidak aka nada hewan,dan selanjutnya tidak aka nada manusia. Tidak ada manusia berarti tidak ada kita semuanya, dan aka nada tiga filosofi tentang tanah yang akan selalu mengiringi kita menjalani kehidupan dengan segala fenomenanya. Tiga Filosofi Tanah : 1. Lemah Garing, Gusti Allah SWT sing paring… 2. Lemah Teles, Gusti Allah SWT sing mbales… 3. Lemah Lembab, Gusti Allah SWT sing ngadzab…
§
|